Belajar Bersama Maestro 2017: Cerdas Berbudaya!


Jakarta, Kemendikbud --- Sebanyak 300 pelajar kelas XI dan XII SMA/SMK dari berbagai wilayah tanah air menjadi peserta Belajar Bersama Maestro (BBM) tahun 2017. Selama 12 hari, yakni tanggal 11 s.d. 23 Juli 2017 mereka akan tinggal di tempat maestro pilihannya untuk mempelajari seni dan budaya, serta mengembangkan dan membangun karakter bangsa. Tema yang diangkat dalam BBM 2017 adalah "Cerdas Berbudaya". 

Ada 15 maestro yang berpartisipasi dalam BBM 2017, yaitu Titiek Puspa (seni musik), Retno Maruti (seni tari), Manten Soedharsono (seni teater), Djana Partanain (seni musik), Jose Rizal Firdaus (seni tari), Hanafi (seni rupa), Fendi Siregar (seni media), Iman Sholeh (seni teater), Dedek Wahyudi (seni musik), Zakaria (seni tari), Timbul Raharjo (seni rupa), Asia Ramli (seni teater), Caro David Habel Edon (seni musik), Sunaryo (seni rupa), dan Krisna Murti (seni media). Peserta BBM 2017 akan belajar di lokasi asal para maestro, yakni di Jakarta, Bandung (Jawa Barat), Cirebon (Jawa Barat), Yogyakarta, Solo (Jawa Tengah), Medan (Sumatera Utara), Kupang (Nusa Tenggara Timur), Lombok Utara (Nusa Tenggara Barat), dan Makassar (Sulawesi Selatan). 

Direktur Kesenian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Restu Gunawan mengatakan, ke-300 peserta BBM 2017 merupakan hasil seleksi dari jumlah total pendaftar 1.578 orang yang mendaftar melalui laman bbm.kemdikbud.go.id. Selanjutnya 1.578 pendaftar tersebut diseleksi lagi menjadi 800 orang hingga akhirnya mengerucut menjadi 300 orang yang akan belajar kepada 15 maestro. Setiap maestro akan menerima 20 siswa untuk tinggal bersama mereka dan mempelajari bidang kesenian tertentu. 

"Nanti anak-anak (peserta BBM) ini akan diserahkan ke maestro masing-masing, kemudian mereka akan membuat karya seni sesuai penugasan dan materi dari maestronya," ujar Restu saat pelepasan peserta BBM 2017 di Jakarta, Senin malam (10/7/2017).

Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid berharap para peserta BBM 2017 tidak hanya belajar tentang seni dan budaya kepada maestro, melainkan juga belajar tentang kehidupan. Menurutnya, banyak yang bisa dipelajari dari para maestro, termasuk perjalanan hidup mereka yang luar biasa. "Para maestro inilah yang membuat kebudayaan Indonesia bisa bernafas sampai sekarang," tuturnya.

Hilmar juga berpesan agar para siswa dapat menggali dan mencerna dengan baik selama tinggal dan belajar bersama maestro. "Dari situ akan lahir satu barisan anak muda yang bersemangat dan berdedikasi yang bisa mengikuti jejak para maestro di masa yang akan datang," ujarnya optimis.

Ia menambahkan, program BBM juga sejalan dengan salah satu program prioritas Kemendikbud, yaitu Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). BBM, ujar Hilmar, adalah salah satu wujud konkret dalam menerapkan pendidikan karakter terhadap siswa. Menurut Hilmar, generasi bangsa harus memiliki keseimbangan antara kemampuan akademis dengan kemampuan di bidang lain, misalnya kesenian atau olahraga. Melalui kegiatan-kegiatan positif itu, karakter anak Indonesia yang kuat akan muncul. BBM juga menjadi teknik belajar yang menyenangkan.

"Kita ingin membuat sekolah atau belajar jadi lebih menyenangkan. Kalau belajarnya kaya' begini senang nggak?," tanya Hilmar kepada para peserta BBM 2017. "Senaaaaang," jawab mereka kompak.

Iman Sholeh, salah satu maestro bidang seni teater mengungkapkan apresiasinya atas penyelenggaraan BBM 2017. Ia mengatakan, sebanyak 20 siswa dari 14 provinsi akan menjadi anak didiknya selama program BBM 2017. "Mereka akan mempelajari banyak hal, terutama sangat mungkin 30 persen adalah persoalan-persoalan mengenai bagaimana sebuah proses hidup dilakukan. Proses penghayatan pada kebudayaan, atau proses menghayati seluruh hal yang kita jalani selama 30 tahun lebih yang dirangkum menjadi 10 hari," tutur seniman asal Bandung, Jawa Barat itu. Iman menuturkan, dalam BBM berlaku hubungan timbal balik, di mana tidak hanya siswa yang belajar dari maestro, melainkan juga maestro bisa belajar dari siswa. "Pada mereka, saya belajar tentang semangat. Jadi BBM ini menyatukan sesuatu yang jauh, yaitu semangat dan pengalaman,  disatukan dan didekatkan," katanya. Selain itu, para peserta yang berasal dari daerah yang berbeda-beda juga bisa belajar satu sama lain, mempelajari budaya daerah temannya masing-masing.

Gerardus Angger, siswa kelas XI SMKN 2 Bandarlampung, menjadi peserta BBM 2017 untuk tinggal dan belajar bersama maestro bidang seni musik, yakni Caro David Habel Edon, seniman pemain sasando (alat musik khas Nusa Tenggara Timur). Ada tiga teknik dasar bermusik dalam memainkan sasando, yaitu ritme, melodi, dan bas. Gerard tertarik mempelajari sasando dari maestronya secara langsung karena melihat sasando sebagai alat musik yang sangat unik. Siswa SMK jurusan teknik arsitek itu mengaku belum pernah memainkan atau mempelajari sasando. Alat musik yang dikuasainya adalah gitar dan akordion. Namun, ia berharap bisa banyak belajar dari Maestro Edon, serta mengenal teman-teman dari pelosok nusantara. "Acara ini menyenangkan. Saya bisa mendapatkan teman baru dari berbagai daerah di Indonesia. Kita semua menjadi satu," katanya. 

Belajar Bersama Maestro (BBM) merupakan upaya strategis untuk penguatan jati diri dan pembangunan karakter bangsa melalui pembelajaran seni budaya kepada generasi muda. Diharapkan, para peserta BBM dapat termotivasi untuk melestarikan seni budaya nusantara. BBM 2017 merupakan penyelenggaraan yang ketiga. BBM pertama kali diselenggarakan pada tahun 2015, lalu tahun 2016, dengan jumlah peserta dan jumlah maestro yang terus bertambah setiap tahun. (Desliana Maulipaksi)
 

Sumber :www.kemdikbud.go.id
Penulis : pengelola web kemdikbud

Image: 2017-07/download.jpg

Written by administrator on Tuesday July 11, 2017

Permalink -

« Revitalisasi Komite Sekolah Melalui Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016